nenden arveni
Energy Saving Mode Using CSS3

Move your mouse to go back to the page!
Gerakkan mouse anda dan silahkan nikmati kembali posting kami!

Copyright 2010 goblog-1.blogspot.com - All rights reserved
  • Facebook Rocks

    Mengapa MySpace menyebalkan, Facebook sangat dominan, dan kekuatannya saling.... . ...

  • Facebook vs Twitter

    Fenomena jejaring sosial (Facebook) masih dalam tahap awal dan masih harus dilih. ...

  • Facebook Marketing

    Facebook Marketing Solutions How do you create a national movement? See how American Express brought Small Busin. ...

  • Facebook and Google

    Go to Blogger edit html and replace these slide 4 description with your own words. ...

  • Facebook Tips

    Go to Blogger edit html and replace these slide 5 description with your own words. ...

Cara Gampang Menangkap Tuyul Untuk Pemula

Jakarta - Ratusan orang berdesak-desakan di lorong sempit di Grogol Utara, Kebayoran Utara. Mereka penasaran untuk melihat mahluk halus tuyul yang dikabarkan tertangkap olehTotok.
Totok (41) yang mengaku telah menangkap empat tuyul. Hasil tangkapan pria yang dikenal sebagai juru pijit dan pengobat alternatif itu disimpan di dalam sebuah botol plastik ukuran 500 ml dan ditaburi garam.

"Saya tangkap seminggu lalu. Awalnya istri bilang ada anak-anak lagi main di teras, setelah salat ashar saya lihat ternyata itu tuyul, 2 cowok dan 2 cewek. Lalu saya baca-bacain (merapal doa -red), tangkap dan masukin ke botol," tutur warga Jl Pulau Mawar, RT 04/08, Grogol Utara, Kebayoran Lama, Jakarta, itu, Jumat (29/10/2010).











Meskisudah sepekan lamanya disimpan, tetapi baru pagi ini kabar tersebut tersiar dari mulut ke mulut. Totok pun nampaknya kurang berkenan tuyul-tuyul bila hasil tangkapannya itu jadi tontonan khalayak seperti sekarang ini.

Maka, botol yang disebut-sebut berisi empat tuyul tersebut, dia masukkan ke bagian dalam rumah petak kontrakannya. Sebelumnya botol diletakkan di meja ruang tamu, sehingga warga yang datang lebih awal masih berkesempatan menonton bahkan memotretnya.

Cara Gampang Melihat Tuyul Untuk Pemula

Pertama-tama anda harus melihat hari yang bagus, dimana para tuyul berkeliaran tanpa di dampingi empunya ,kira-kira jam 12  tengah malem ingat harinya musti  selasa kliwon cari perempatan jalan dan siapkan peralatannya diantaranya:




1.kembang 7 rupa jgn lupa musti ada kembang kantil
2.kemenyan(hioh)
3.telur ayam kampung 3 biji.
4.lampu penerangan (senter)
5.Pastikan anda jgn TAKUT

Cara ritualnya  :

1.Taburkan kembang 7 rupa dan tancapkan kembang kantil di kuping anda,
2.Bakar kemenyan atau hioh diatas taburan kembang tadi,
3.Letakan telur tsb diatasnya,
4.lepas kan semua pakaian anda (harus bugil), coba posisi ruku (membungkuk) lalu coba lihat arah belakang, maka anda akan melihat tuyul menggantung, bila belom keliatan coba pake senter..






                                                          Sekian dan Terimakasih

Miskin bin Balangsak,Biniku Piara Tuyul


Kekayaan para tetangga kiri ataupun kanan ternyata mulai mengusik biniku. Ia merasa kurang nyaman melihat orang lain sebut saja Bu Kirno tetangga sebelah kiri rumahku membeli rumah dan mobil baru lagi. “Padahal tetangga saya yang namanya Bu Kirno tak mempunyai anak dan tak bekerja, masa harus mempunyai mobil dan rumah dua buah,” omel biniku mengomentari  rumah dan mobil baru Bu Kirno.

Belum genap seminggu omelan sirik tersebut berhenti, eh kemarin istriku Rani siang-siang menelponku ke kantor hanya untuk mengabarkan bahwa tetangga kami Bu Thomas juga menukar mobil lawasnya dengan sebuah mobil baru keluaran merek Toyota. Aku hanya menghela napas panjang seraya berujar lembut, “Bu, rejeki orang kan beda-beda, ayah belum mampu menukar mobil butut kita. Doakan saja ayah banyak rejekinya ya, “ tuturku menenangkannya.
Boro-boro tukar mobil, lha yang namanya ngecet rumah saja sudah dua tahun ini tak bisa aku lakukan. Aku mementingkan pendidikan anak-anak dulu. Si sulung sudah kelas 6 SD sedangkan si bontot baru masuk Sekolah Dasar. Bayangkan saja biaya yang harus aku siapkan untuk memenuhi pendidikan anak-anakku agar mereka mendapatkan sekolah yang baik mutunya serta mengajarkan akhlak yang benar pula. Aku rasa cita-cita semua ayah di dunia ini sama jika untuk pendidikan anak.
Rani kunikahi 9 tahun yang lalu, tapi dulu Rani kupilih menjadi istriku karena sangat pengertian dan memahami diriku. Tapi kok seiring berkembangnya waktu Rani jadi berubah? Ia kini sangat materialistis, semua hal dilihat dari jumlah rupiah semata. Untung ia tak mengenal dolar Amerika, jika ia tahu berapa nilai tukar Dolar atau Euro terhadap rupiah mungkin ia berubah haluan melihat semua hal dari mata uang tersebut.
Yang mulai menjengkelkan, kini Rani sering merengek-rengek untuk meminta perhiasan tambahan karena ia malu, teman dan tetangga sering berganti-ganti model perhiasan sedangkan yang dimiliki Rani tak pernah berubah gaya sejak sembilan tahun yang lalu, maklumlah itu mas kawin pernikahan kami.
Tak berhenti sampai disitu, Rani mulai kerap menelponku ke kantor dan meminta ijin membeli tas, sepatu atau kosmetika yang ditawarkan oleh teman-teman arisannya. Jengkel juga aku jadinya dan beberapa kali kubentak untuk tak mengangguku di kantor untuk urusan seperti itu. Namun Rani bersikeras dan terus menerus merengek.
Pernah suatu ketika saat aku sedang rapat, kuiyakan saja permintannya. Walhasil begitu aku pulang kantor sudah ada Ibu Lasmini yang menunggu kepulanganku sambil menyodorkan tagihan barang yang diambil istriku, walau kredit 3 bulan namun benar-benar menjengkelkan caranya.
Suatu hari, Rani meminta ijin untuk pergi bersama teman-teman arisannya ke Jawa Timur, katanya untuk menghilangkan kejenuhan. Karena aku juga kasihan melihatnya di rumah terus maka kuijinkan ia pergi beberapa hari ke Surabaya. Aku juga memberi uang saku untuk keperluannya selama berjalan-jalan.
Empat hari kemudian Rani sudah pulang, ia membeli beberapa oleh-oleh berupa makanan untuk anak-anak. Tak henti-hentinya ia berceloteh tentang pengalaman perjalanannya. Namun ia juga menangis menceritakan bahwa kalung mas kawin kami hilang, entah terjatuh dimana. Walaupun sangat kesal karena kalung tersebut adalah satu-satunya sisa dari mas kawin kami namun mau bilang apa lagi. Siapa yang mau kehilangan, coba?
Sejak kepulangan Rani dari Jawa Timur, aku merasa ada yang agak aneh dari sikapnya. Karena setiap pagi-pagi istriku sudah jalan-jalan. Katanya ingin olah raga. Belum lagi di dapur teronggok bunga-bungaan tujuh rupa beserta kemenyan dan rokok kretek yang diletakkan di tampah dari anyaman bambu. Malah beberapa malam Jumat kucium bau asing menyengat hidungku. Ternyata Rani sedang membakar kemenyan sambil membisikkan beberapa kalimat yang asing terdengar di telinga. Bahkan setiap malam Rani mulai suka menyendiri di teras rumah dengan lampu yang digelapkan total, ia duduk-duduk saja, sesekali tertawa atau berkata-kata sendiri.
Tentu saja tak kubiarkan istriku menjadi gila, maka suatu malam di saat anak-anak sudah terlelap aku mengajaknya bicara dan menanyakan perubahan dirinya. Rani diam saja dan berkilah belum waktunya ia menjelaskan. Berkali-kali kudesak dan kukatakan keberatanku dengan adanya bunga tujuh rupa dan bau kemenyan yang setiap malam menyengat hidung, ia tak bergeming. Menunduk dalam-dalam sambil berucap, “ Ayah tenanglah aja, nanti kalau sudah ada hasilnya ayah juga bakal terima kasih ke aku”.
Beberapa minggu kemudian sepulang dari kerja kulihat ada sebuah kotak berisi kue donat dari toko donat terkenal di Jakarta. “Dari siapa donat ini, bu?” tanyaku sambil mengambil sebuah donat yang berwarna coklat. “Aku yang beli tadi, sekalian jalan-jalan ke mal sama Bu Thomas nyoba mobil barunya,” jawab istriku ketus.
Minggu depannya lagi, ada DVD, tas, sepatu, baju, lauk mewah dari restoran Padang dan beragam barang baru di rumah. Tentu saja aku heran dan mempertanyakan dari mana asal muasal barang-barang tersebut. “Ya beli dari mal, emang saya nyolong!” teriak Rani dari kamar mandi. Dengan marah kugedor pintu kamar mandi dan kuminta ia menjelaskan dari mana uang untuk membeli barang-barang tersebut. “Sumpah, aku tidak jual diri, ini adalah uang hasil dari perjuanganku,” isaknya saat kutampar pipinya. “Perjuangan dari mana?! Jelas ibu tak bekerja dan kita hanya hidup dari gajiku yang pas-pasan!” teriakku tak kalah sengitnya.
“Aku memelihara tuyul pak, karena aku lelah oleh kemiskinan yang mendera kita. Aku juga ingin mempunyai barang bagus seperti milik tetangga. Aku menjual kalung emas dan memberikannya kepada dukun sakti di Jawa Ttimur sebagai mas kawin untuk mendapatkan bantuan tuyul. Dan tuyul itulah yang mencari uang buat kita pak,“ jelas Rani di sela-sela tangisnya.
“Tiap pagi aku harus membawa tuyul itu jalan-jalan dan malam hari aku memberinya makan dengan bunga tujuh rupa lengkap. Aku juga harus menggendongnya jika malam, makanya aku selalu melewatkan tengah malam duduk di teras rumah dan sesekali harus menyusuinya,“ terangnya lagi.
Blar…Bagai terkena hantaman kilat aku dibuatnya. Kupandangi istriku tanpa kedip, rasanya tak mungkin perempuan yang telah kunikahi selama ini berubah drastis. Istriku memelihara tuyul hanya karena iri dengan kemewahan yang dimiliki tetanggaku. Aku tertegun lama dan tak mampu berucap. Aku lelah lahir batin. Aku berencana memintanya memilih, keluarga atau tuyul tersebut.
(beritamedan.wordpress.com)